RANGKUMAN TENTANG KONSEP AL-QUR’AN TENTANG ‘ABD, INSAN, BASYAR

 Nama        :  Wa Jasni La Juli

Nim            :  18133005

Prodi          :  Pendidikan Bahasa Arab (PBA-1)

Semester   :  V (Lima)

MK              :  Tafsir Dan Tafsir Tarbawi


KONSEP AL-QUR’AN TENTANG ‘ABD, INSAN, BASYAR

A.  Konsep Al-Qur’an Tentang ‘Abd

Pada hakikatnya manusia adalah turunan dari manusia pertama yang bernama Adam, sehingga Karena sebab itulah disebut Bani Adam. Hal tersebut ini tentu tidak salah, tetapi ada rahasia yang sangat agung kenapa Allah menyebut manusia sebagai Bani Adam. Ditegaskan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam Al-Qur’an surah Al-Isra’ : 70 

وَلَـقَدۡ كَرَّمۡنَا بَنِىۡۤ اٰدَمَ وَحَمَلۡنٰهُمۡ فِى الۡبَرِّ وَالۡبَحۡرِ وَرَزَقۡنٰهُمۡ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلۡنٰهُمۡ عَلٰى كَثِيۡرٍ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِيۡلًا

Artinya :

“Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezi yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan”. (Q.S. Al-Isra’ : 70).

Pada ayat di atas sudah jelas bahwa Allah sangat memuliakan manusia (anak-anak Adam), yaitu dengan Allah SWT memberikan mereka akal, bisa berbicara, bisa menulis, serta membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, selain itu Allah sudah memberikan mereka bentuk tubuh yang baik sehingga manusia bisa berdiri tegak sehingga mereka bisa mengatur kehidupannya baik sekarang di dunia maupun untuk di akhirat kelak. Dengan mengatur kehidupan niscaya mampu mengatur diri sendiri sehingga dapat menjadi khalifah bagi kehidupan pribadi manusia itu sendiri. Meninggikan kualitas diri dihadapan Ilahi sebagai khalifa sesungguhnya adalah berjuang untuk memuliakan diri sendiri sebagai hamba Allah.

Kata ‘abd di samping mempunyai arti budak atau hamba, dalam pengertian negatif. ‘Abd juga mengandung pengertian yang positif, yaitu dalam hubungan antara manusia dengan penciptanya. Kata ‘abid dalam Al-Qur’an dipakai untuk menyebut semua manusia dan jin. Sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surah Adz-Zariyat : 56, yaitu :

وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡاِنۡسَ اِلَّا لِيَعۡبُدُوۡنِ

Artinya : 

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Q.S Adz-zariyat:56).

 Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa hakikat penciptaan manusia di muka bumi sebagai khalifah Allah dan juga sebagai ‘abd Allah, bukanlah dua hal yang bertantangan, tetapi merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Kekhalihannya adalah realisa dari pengabdiannya kepada Tuhan yang menciptakannya. Kedudukan manusia sebagai khalifah dan ‘abd pada dasarnya merupakan kesatuan pembentuk kebudayaan. Kebudayaan dibentuk oleh adanya pemikiran terhadap alam sekitarnya dan pemahaman terhadap hukum-hukumnya yang kemudian diwujudkan dalam tindakan.

B.   Konsep Al-Qur’an Tentang Insan

Al-Insan terbentuk dari kata ينس-نسي  yang berarti lupa. Kata insan bila dilihat asal kata al-nas, berarti melihat, mengetahui, dan minta izin. Atas dasar ini, kata tersebut mengandung petunjuk adanya kaitan substansial antara manusia dengan kemampuan penalarannya. Manusia dapat mengambil pelajaran dari hal-hal yang dilihatnya, dapat mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, serta dapat meminta izin ketika akan menggunakan sesuatu yang bukan miliknya.

Kata al-Insan juga menunjukkan pada proses kejadian manusia, baik proses penciptaan Adam maupun proses manusia pasca Adam di alam rahim yang berlangsung secara utuh dan berproses. Sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Mu’minun : 12-13, yaitu :

 12 وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ مِن سُلَٰلَةٍ مِّن طِينٍ

13 ثُمَّ جَعَلْنَٰهُ نُطْفَةً فِى قَرَارٍ مَّكِينٍ

Artinya :

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)”. (Q.S. Al-Mu’minun : 12-13).

Selain itu, kata al-insan berarti melihat, mengetahui, dan minta izin.istilah ini menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan menalar dan berpikir dibandingkan dengan makhluk lainnya.   juga bermakna bahwa manusia memiliki penalaran yang cara berpikir yang baik dibanding makhluk lain. Manusia dalam istilah ini merupakan makhluk yang dapat di didik, memiliki potensi yang dapat digunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

C.  Konsep Al-Qur’an Tentang Basyar

Kata manusia yang disebut Al-Qur’an dengan menggunakan kata basyar menyebutkan bahwa manusia adalah anak keturunan Nabi Adam as dan makhluk fisik yang juga suka makan serta minum. Kata ‘basyar’ disebutkan sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan hanya sekali dalam bentuk mustsanna atau jamak. Sebagai makhluk yang bersifat fisik, manusia tidak jauh berbeda dengan makhluk biologis lainnya. Kehidupan manusia terikat dengan kaidah prinsip kehidupan biologis seperti berkembang biak. Mengenai proses dan fase perkembangan manusia sebagai makhluk biologis, ditegaskan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam Al-Qur’an Surah Al-Mu’minun : 12-14

12 وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ مِن سُلَٰلَةٍ مِّن طِينٍ

13 ثُمَّ جَعَلْنَٰهُ نُطْفَةً فِى قَرَارٍ مَّكِينٍثُ

مَّ


Referensi: https://tafsirweb.com/37027-quran-surat-al-mukminun-ayat-12-14.html


وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ مِن سُلَٰلَةٍ مِّن طِينٍ (١٢) ثُمَّ جَعَلْنَٰهُ نُطْفَةً فِى قَرَارٍ مَّكِينٍ (١٣) ثُمَّ خَلَقْنَا ٱلنُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا ٱلْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا ٱلْمُضْغَةَ عِظَٰمًا فَكَسَوْنَا ٱلْعِظَٰمَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَٰهُ خَلْقًا ءَاخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحْسَنُ ٱلْخَٰلِقِينَ ١٤)

Artinya :

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”. (Q.S. Al-Mu’minun : 12-14).

Dalam Qur’an surah al-mu’minun ayat 12-14 menyimpulkan bahwa kualitas kehidupan manusia ditentukan melalui delapan fase kehidupan. Fase-fase itu antara lain, pertama : tanah sebagai proses awal, kedua : proses yang berasal dari air mani (nutfah), ketiga : proses yang melekat (‘alaqah), keempat : proses menjadi segumpal daging (mudghah), kelima : proses menjadi tulang belulang (‘izham), keenam : proses menjadi daging (lahmah), ketujuh : proses peniupan roh, kedelapan : proses kelahiran ke muka bumi. Proses kejadian manusia ini sejalan dengan apa yang dijelaskan berdasarkan analisis ilmu pengetahuan.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa manusia dalam konsep al-basyar ini dapat berubah fisik, yaitu semakin tua fisiknya akan semakin lemah dan akhirnya meninggal dunia. Dan dalam konsep al-basyar ini pula al-basyar ini juga dapat tergambar tentang bagaimana seharusnya peran manusia sebagai makhluk biologis. Bagaiman dia berupaya untuk memenuhi kebutuhannya secara benar sesuai tuntunan Penciptanya. Yakni dalam memenuhi kebutuhan primer, sekunder dan tersier.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rangkuman Penafsiran Surah Al-Alaq Ayat 1-5

Tujuan Pendidikan Dalam Al-Qur'an